Monday, 14 February 2011

Wanita.. yg mana satu diri kita??

Wanita yang elok paras mukanya itu mungkin tak terhitung jumlahnya..
Namun, wanita yang elok perilaku dan jiwanya itu masih sedikit

Wanita yang kaya harta itu telah mendominasi dunia…
namun, wanita yang kaya hati itu masih minima di dunia…

Wanita yang cerdas intelektual itu tak terbilang jumlahnya…
namun wanita yang cerdas dalam menjaga kehormatannya itu boleh dibilang bilangannya

wanita yang aktif berkarier itu bejibun jumlahnya memenuhi dunia…
namun wanita yang aktif untuk menjadi ibu dari anak-anak yang shalih/shalihah itu sulit dicari

Wanita yang katanya setia pada kekasih yang mahu mengorbankan segalanya untuk kekasihnya itu dapat ditemukan berselerakan….
Namun wanita yang setia pada suaminya dan mahu mengorbankan jiwa raganya untuk kebahagiaan dunia akhirat itu sulit untuk mendapatkannya…

Wanita yang rela membuang hartanya untuk kesenangan dunia itu bukan barang langka…
namun wanita yang rela menginfakkan hartanya untuk kesenangan akhirat itu masih langka…

Wanita yang menjaga dan memelihara kecantikan wajahnya itu sudah biasa terlihat
namun wanita yang menjaga dan memelihara kesucian hatinya sulit ditemukan

Wanita yang mempertontonkan auratnya itu sudah membuat dunia ini lebih panas
namun wanita yang senantiasa menutup aurat dan menjaga kehormatannya itu sentiasa menyejukkan mata

Selamat menyambut MaulidurRasul~


Rindu Nabi Muhammad SAW Terhadap Kita..

Adakah kita merindui Nabi Muhammad SAW setiap hari? Atau kita hanya merasa rindu ketika sambutan Maulid Nabi? Fikir-fikirkan.
Andai benar kita mencintai baginda, maka buktikanlah kecintaanmu !!

Mari kita renungi sebuah kisah yang menunjukkan betapa baginda amat merindui kita; umat akhir zaman.

........................................
..........

Suasana di majlis pertemuan itu hening sejenak. Semua yang hadir diam membatu. Mereka seperti sedang memikirkan sesuatu. Lebih-lebih lagi Saidina Abu Bakar.

Itulah pertama kali dia mendengar orang yang sangat dikasihi melafazkan pengakuan demikian.

Seulas senyuman yang sedia terukir dibibirnya pun terungkai.

Wajahnya yang tenang berubah warna.

"Apakah maksudmu berkata demikian wahai Rasulullah? Bukankah kami ini saudara-saudaramu? " Saidina Abu Bakar bertanya melepaskan gumpalan teka-teki yang mula menyerabut fikiran.

"Tidak, wahai Abu Bakar. Kamu semua adalah sahabat-sahabatku tetapi bukan saudara-saudaraku (ikhwan)," suara Rasulullah bernada rendah.

"Kami juga ikhwanmu, wahai Rasulullah," kata seorang sahabat yang lain pula.

Rasulullah menggeleng-gelangkan kepalanya perlahan-lahan sambil tersenyum.

Kemudian baginda bersuara, "Saudaraku ialah mereka yang belum pernah melihatku tetapi mereka beriman denganku sebagai Rasulullah dan mereka sangat mencintaiku. Malahan kecintaan mereka kepadaku melebihi cinta mereka kepada anak-anak dan orang tua mereka."

Pada ketika yang lain pula, Rasulullah menceritakan tentang keimanan 'ikhwan' baginda: "Siapakah yang paling ajaib imannya?" tanya Rasulullah.

"Malaikat," jawab sahabat.

"Bagaimana para malaikat tidak beriman kepada Allah sedangkan mereka sentiasa hampir dengan Allah," jelas Rasulullah.

Para sahabat terdiam seketika. Kemudian mereka berkata lagi, "Para nabi."

"Bagaimana para nabi tidak beriman, sedangkan wahyu diturunkan kepada mereka."

"Mungkin kami," celah seorang sahabat.

"Bagaimana kamu tidak beriman sedangkan aku berada ditengah-tengah kau," pintas Rasulullah menyangkal hujah sahabatnya itu.

"Kalau begitu, hanya Allah dan Rasul-Nya sahaja yang lebih mengetahui," jawab seorang sahabat lagi, mengakui kelemahan mereka.

"Kalau kamu ingin tahu siapa mereka? Mereka ialah umatku yang hidup selepasku. Mereka membaca Al Quran dan beriman dengan semua isinya. Berbahagialah orang yang dapat berjumpa dan beriman denganku. Dan tujuh kali lebih berbahagia orang yang beriman denganku tetapi tidak pernah berjumpa denganku," jelas Rasulullah.

"Aku sungguh rindu hendak bertemu dengan mereka," ucap Rasulullah lagi setelah seketika membisu.

Ada berbaur kesayuan pada ucapannya itu...~

Thursday, 10 February 2011

Ciri - ciri wanita Syurga


1. Bertakwa. 

2. Beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari kiamat, dan beriman kepada takdir yang baik mahupun yang buruk.

3. Bersaksi bahawa tiada yang berhak disembah kecuali Allah, bersaksi bahawa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, mendirikan solat, menunaikan zakat, berpuasa bulan Ramadan, dan menunaikan haji bagi yang mampu.

4. Ihsan, iaitu beribadah kepada Allah seakan-akan melihat Allah, jika dia tidak dapat melihat Allah, dia mengetahui bahawa Allah melihat dirinya.


5. Ikhlas beribadah semata-mata kepada Allah, tawakal kepada Allah, mencintai Allah dan Rasul-Nya, takut terhadap azab Allah, mengharap rahmat Allah, bertaubat kepada-Nya dan bersabar atas segala takdir Allah serta mensyukuri segala kenikmatan yang diberikan kepadanya.

6. Gemar membaca al-Quran dan berusaha memahaminya, berzikir mengingati Allah ketika sendiri atau bersama orang dan sentiasa berdoa kepada Allah.

7. Menghidupkan amar makruf dan nahi mungkar pada keluarga dan masyarakat.
8. Berbuat baik (ihsan) kepada tetangga, anak yatim, fakir miskin, dan seluruh makhluk, serta berbuat baik terhadap haiwan ternakan yang dimiliki.

9. Menyambung tali persaudaraan terhadap orang yang memutuskannya, memberi kepada orang, menahan pemberian kepada dirinya, dan memaafkan orang yang menzaliminya.

10. Adil dalam segala perkara dan bersikap adil terhadap seluruh makhluk.

11. Menjaga lisannya daripada perkataan dusta, saksi palsu dan menceritakan kejelekan orang lain (ghibah).

13. Menepati janji dan amanah yang diberikan kepadanya.

14. Berbakti kepada kedua-dua orang tua.

15. Menyambung silaturahim dengan keluarganya, sahabat terdekat dan jauh.

Thursday, 3 February 2011

Simple Formula to be the best in duniawi & ukhrawi!!


Being humen, we all crave to have the best in life, to get the best in life, and to be the best in life. Don't we? How many times have these thoughts crawled in our brains?
"I want to be the best employee or the best student!" "I want to own the best mobile, the best car and be married to the best wife."

Dear brothers and sisters, as Muslims has the thought ever come to us that "I want to be the best Muslim?" Leave alone working for it, have we ever just thought about it?
Well, now that this topic has come up, give it a second thought. If you believed that to be the best of Muslims you need to spend your full day in the Masjid or fast everyday of your life, you were wrong!

Prophet Muhammad (peace be upon him) gave us a simple formula to be the best:
"The best amongst you is the one who learns the Qur'an and teaches it." (Al-Bukhari)

Subhan Allah, as simple as that! It doesn't require you to be on your prayer mat 24/7. No, the key is Allah's speech – the Qur'an.

Hold on to it even if it's by starting to read a page everyday (make sure you understand it). This is something that Allah has ordered in the Qur'an.

"And hold fast, all of you together, to the rope of Allah (i.e. the Quran), and be not divided among yourselves; and remember with gratitude Allah's favors on you..." (Qur'an, 3:103)

"And We have indeed made the Qur'an easy to understand and remember, then is there any that will remember (or receive admonition)? " (Qur'an, 54:17)

Benefits of reading the Qur'an:

• Fulfils an Islamic duty
The Prophet (peace be upon him) summarized the Religion in his statement: "The Religion is naseehah (sincerity)! " So the Companions asked, "For whom'" He replied: "For the sake of Allah, His Book, His Messenger, the leaders of the people, and their common folk." (Sahih Muslim)
Sincerity to the Book of Allah includes reciting it regularly, learning the rules of Tajweed and trying to beautify our recitation, understanding its meaning, Tafseer and the reasons for revelation, and most importantly affirming that it is the Truth, the perfect Speech of Allah and not part of the creation. We honor it by learning it, implementing it in our lives, teaching it and calling people towards it. So by reading and reflecting over the Qur'an, we fulfill an obligation and will Insha Allah be rewarded for that.

• Intercession on the Day of Judgment
The Prophet (peace be upon him) said: "Read the Qur'an, for verily it will come on the Day of Judgment as an intercessor for its upholders." (Sahih Muslim)
All those early mornings we spent reciting the Qur'an will Insha Allah bear its full fruit when it really matters: the Day of Judgment. We can't even imagine how it will be, when the Qur'an will intercede for those who honored it.
May Allah make us among them, Aameen.

• How much in 5 minutes?
I'm sure you're familiar with the famous Hadith, "Whoever reads a letter from the Book of Allah, he will have a reward. And that reward will be multiplied by ten. I am not saying that "Alif, Laam, Meem" is a letter, rather I am saying that "Alif" is a letter, "Laam" is a letter and "Meem" is a letter." (Al-Tirmidhi)

SubhanAllah, can you imagine the weight of good deeds that will be added to your right side by just reciting one verse? This is really a blessing for all of us..
There is no end to the benefits of reading the Qur'an. Also, our wisdom and thoughts develop positively, giving us a clear and intellectual understanding of life if we seek guidance from the Qur'an, the Book of our Creator.

May Allah make us among the people of the Qur'an and make the Qur'an a witness for us on the Day of Judgment and not against us.
So go ahead, learn and teach the Qur'an, and make yourself among the best of Muslims, Insha Allah.

Romantiknya Rasulullah.. Akhlakmu sungguh memikatku

Kisah-kisah rumahtangga, sebut-sebut pasal POLIGAMI, bincang-bincang suami lebih muda dari isteri dan pelbagai cerita serta tauladan yang dapat diambil marilah kita bersama-sama talaudani kisah ROMANTIK RASULULLAH SAW bersama isterinya.



Rasulullah SAW adalah contoh yang terbaik seorang suami yang mengamalkan sistem Poligami. Baginda romantik kepada kesemua isterinya. Disebutkan satu kisah pada suatu hari isteri-isteri baginda berkumpul dihadapan baginda lalu bertanya "Siapakah diantara mereka (isteri-isteri) baginda yang paling disayangi..??".



Rasulullah SAW hanya tersenyum lalu berkata, "Saya akan beritahu kamu kemudian."



Selepas daripada pertemuan itu, Rasulullah telah memberikan setiap seorang daripada isteri-isteri baginda sebentuk cincin. Baginda berpesan supaya tidak memberitahu kepada isteri-isteri yang lain. Lalu suatu hari hari mereka berkumpul lagi dan bertanyakan soalan yang sama.



Rasulullah SAW lalu menjawab, "Orang yang paling aku sayangi ialah yang kuberikan cincin kepadanya". Isteri-isteri baginda tersenyum puas kerana menyangka hanya diri mereka sahaja yang mendapat cincin dan merasakan bahawa diri mereka tidak terasing.



Tidak ketinggalan amalan-amalan lain yang boleh dilakukan untuk mendapat suasana romantik ini Rasulullah SAW ada bersabda yang bermaksud : "Apabila pasangan suami isteri berpegangan tangan, dosa-dosa akan keluar melalui celah-celah jari mereka.."



Rasulullah SAW selalu berpegangan tangan dengan Aisyah ketika di dalam rumah. Baginda acap kali memotong kuku isterinya, mandi junub bersama, dan mengajak salah seorang dari isteri baginda pergi musafir (mengikut undian) untuk menambahkan lagi kasih sayang di antara mereka.



Inilah serba sedikit kisah romantik Rasulullah SAW agar dapat kita tauladani dan praktikkan dalam kehidupan berumahtangga. Pada suami-suami yang budiman selepas ini peganglah tangan isteri anda setiap waktu, setiap masa dan setiap saat begitu juga pada isteri-isteri solehah peganglah tangan suami anda bagi menghapuskan segala dosa-dosa.



"Ya Allah cantikkanlah akhlak ku seperti mana cantiknya akhlak Rasulullah SAW, tenangkanlah hati ku bagai tenangnya air di tasik, dan serikanlah wajahku bagai bercahayanya bulan purnama di hari berserinya wajah orang-orang beriman..."



^_^

Amin Ya Rabbal A'laminn.........

Jauhi Enam Golongan Yang Akan di Masukan ke Dalam Neraka Tanpa Hisab

Sahabat yang dirahmati Allah,

Allah S.W.T. telah menyediakan syurga untuk hamba-hamba-Nya yang beriman dan bertakwa kepada-Nya, apabila mereka bertemu Allah S.W.T. di hari akhirat. Begitu juga Allah S.W.T. telah menyedikan neraka untuk hamba-hamba-Nya yang melakukan dosa dan tidak melaksanakan suruhan-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Kesemua manusia yang beriman  akan melalui hisab iaitu timbangan amal di atas dosa dan pahala yang telah dikerjakannya ketika di dunia. Tetapi amat malang terdapat 6 golongan manusia yang akan dimasukkan ke dalam neraka tanpa hisab di sebabkan dosa besar dan kemugkaran  yang mereka lakukan ketika di dunia.

Abu Hurairah r.a berkata, Rasulullah S.A.W bersabda maksudnya :
"Enam kerana enam akan dimasukkan ke neraka pada hari kiamat sebelum hisab (perhitungan amal) iaitu :
1. Kerajaan yang zalim
2. Orang yang fanatik (menyombongkan kebangsaannya)
3. Ketua kampung/pemimpin yang sombong.
4. Pedagang atau ahli perniagaan yang berkhianat.
5. Orang kampung yang kerana kebodohannya.
6. Dan ahli ilmu kerana hasad dengkinya."

Huraiannya adalah seperti berikut :

Golongan pertama : Kerajaan yang zalim.

Pemimpin yang telah dipilih oleh rakyat dan diberikan amanah untuk mentakbirkan negara sekiranya ia melakukan kezaliman kepada rakyat dan tidak berlaku adil tidak akan dapat mencium keharuman syurga dan dimasukkan kedalam neraka sebelum hisab (perhitungan amal).

Ma’qil Ibnu Yasar r.a berkata “ Saya mendengar Nabi S.A.W bersabda maksudnya : “ Tidak ada seorang hamba yang Allah serahkan kepadanya untuk memimpin segolongan rakyat lalu ia tidak memelihara rakyatnya itu dengan menuntut dan memimpin mereka kepada kemaslahatan dunia dan akhirat melainkan tiadalah ia mencium bau syurga.”
(Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim)

Sabda Rasulullah S.A.W maksudnya : "Sebaik-baik pemerintah kamu adalah pemerintah yang kamu sayangi mereka, dan mereka menyayangi kamu. Kamu mendoakan ke atas mereka, dan mereka mendoakan ke atas kamu. (Adapun) Sejahat-jahat pemerintah kamu adalah mereka yang kamu benci dan mereka pula benci kepada kamu, kamu melaknat mereka dan mereka melaknat kamu.Berkata (Auf), kami bertanya : Wahai Rasulullah, apakah boleh kami menyerang mereka dengan pedang ? Nabi menjawab : “Tidak boleh, selama mereka menunaikan solat.” (Hadis Riwayat Muslim)

Abdullah bin Mas’ud.Rasulullah S.A.W. bersabda maksudnya : “Sesungguhnya kamu akan melihat selepasku sikap (pemerintah) mementingkan diri dan kamu akan melihat perkara-perkara yang kamu ketahui ia mungkar (pada pemerintah). Mereka berkata: Apa yang engkau perintahkan kami (lakukan) wahai Rasulullah? Sabda baginda: Tunaikan untuk mereka hak mereka dan mintalah kepada ALLAH hak kamu.” (Hadis Riwayat Bukhari)

Dalam realiti kita hari ini di dalam seluruh dunia Islam pemimpin negara Islam kebanyakkannya tidak berlaku adil kepada rakyat dibawah pemerentahannya. Selagi mereka tidak berhukum dengan hukum yang diturunkan Allah S.W.T. selagi itulah mereka  tidak akan dapat berlaku adil. Pemimpin kerapkali merampas hak rakyat, rasuah, menyalah gunakan dana kerajaan dan menagkap dan memenjarakan rakyat yang tidak berdosa tanpa dibicarakan di mahkamah terbuka. Para ulama yang bertanggungjawab menyampaikan dakwah kepada rakyat disekat dan dikenakan berbagai halangan dan sekatan sehingga rakyat yang dahagakan ilmu terbiar tanpa mendapat tarbiah dan kesedaran Islam.

Perkembangan terkini dua buah negara Arab yang mana pemimpinnya cukup zalim dan kejam, rakyatnya telah bangkit memberontak dan mengadakan tunjuk perasaan secara besar-besaran, yang satu telah jatuh dan menanti yang satu lagi bila-bila masa akan jatuh dibawah gelombang rakyat yang dahagakan keadilan dan kebebasan. Cuba kita bayangkan bagaimana zalimnya seorang pemimpin Islam sanggup menjadi 'budah suruhan' Yahudi laknatullah, saudara kita Palestin membawa makanan dan ubat-ubatan melalui trowong bawah tanah pihak tentera telah melepaskan gas beracun hinggakan mereka yang berada di trowong mati kerana sesak nafas. Tunggulah balasan Allah kepada mereka yang menzalimi saudara muslim yang tidak berdosa!

Para pemimpin pergerakan Islam di dua negara tersebut telah di tangkap dan diseksa dengan berbagai-bagai seksaan sedangkan mereka bukan penjenayah, mereka hanya menyampaikan dakwah untuk menyelamatkan umat daripada kejahilan dan kemurkaan Allah. Kebangkitan gelombang rakyat adalah suatu yang tidak dapat disekat lagi kerana rakyat memerlukan pemimpin yang adil , amanah dan pemimpin berhati rakyat.

Ingatlah wahai pemimpin umat Islam! Kedudukan kalian sentiasa dibawah pengawasan Allah! Andainya kalian adil , kalian akan mendapat naungan Arasy akan di Padang Mahsyar nanti. Sebaliknya jika kalian zalim dan menindas rakyat maka kalian adalah golongan pertama akan di masukkan ke dalam neraka tanpa hisab kerana betapa besarnya dosa kalian disisi Allah S.W.T.

Golongan Kedua : Orang yang fanatik (menyombongkan kebangsaannya)

Islam melarang umatnya mengutamakan kemegahan atau taksub kepada sesuatu kaum/bangsa  dan sifat separti ini dipanggil memperjuangkan asabiyah.

"Seorang lelaki (ayah perempuan yang meriwayatkan hadis) bertanya: 'Wahai Rasulullah, adakah dianggap asabiyah puak orang yang sayang kepada kaum bangsanya?' Jawab baginda S.A.W : 'Tidak, tetapi asabiyah ialah apabila seorang itu menolong bangsanya kepada kezaliman". (Hadis Riwayat  Abu Daud, Ibn Majah dan sebagainya)
Imam Al-Munawi ketika mensyarahkan perkataan asabiyah lalu berkata:
“Iaitu membantu kezaliman…” (rujuk Aun Al-Ma’bud)

Dapat difahami bahawa sayang kepada bangsa sendiri  yang di amanahkan pula oleh Allah untuk menerajui Islam di negara ini tanpa melakukan penindasan kepada bangsa-bangsa lain adalah tidak di larang. Dalam masa yang sama sebarang kezaliman , kemungkaran dan kemaksiatan tetap dibenteras walaupun dilakukan oleh bangsa sendiri.

Maksud umum kepada asabiyah bukan setakat berlaku apabila pembelaan kezaliman kepada bangsa tetapi ia juga boleh berlaku apabila kezaliman yang dilakukan oleh kumpulan, puak, organisasi, keluarga, parti atau jamaah lalu dibela dan dipertahankan.

Dalam hadis yang lain Nabi S.A.W bersabda maksdnya : "Bukan termasuk kalangan ummatku orang yang mengajak pada asabiyah, dan bukan termasuk kalangan umatku orang yang berperang atas dasar asabiyah, dan bukan termasuk kalangan umatku orang yang mati atas dasar asabiyah." (Hadis Riwayat Abu Dawud).

Golongan Ketiga : Ketua kampung/ pemimpin yang sombong.

Sifat sombong adalah satu sifat yang amat dimurkai oleh Allah S.W.T. Tiada sebab manusia mesti sombong kerana sesuatu kekuasaan dan kekayaan kerana semuanya adalah milik Allah. Bila-bila masa sahaja Allah boleh menarik kesemua itu.

Dari Abdullah bin Mas'ud dari Nabi s.a.w., bahawasanya baginda bersabda yang bermaksud, "Tidak akan masuk syurga orang yang di dalam hatinya terdapat sebesar biji sawi dari kesombongan."
Salah seorang berkata, "Sesungguhnya ada orang yang menyukai baju dan sandal yang bagus."
Rasulullah S.A.W. bersabda yang bermaksud, "Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan mencintai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia."
(Hadis Riwayat Muslim)

Seorang ketua kampung atau pemimpin dikawasan mukim tidak seharusnya dia bersifat sombong kerana tugas untuk memimpin kampung atau mukim adalah satu amanah bukan satu  keistimewaan dan boleh bermegah-megah.

Begitu juga orang kaya tidak sepatutnya merasa sombong bila melihat orang miskin. Mereka merasakan usaha mereka menjadikan mereka kaya sedangkan orang miskin adalah orang yang bodoh dan malas berusaha.

Firman Allah S.W.T. maksudnya : "Sesungguhnya Qarun adalah daripada kalangan kaum Musa. Namun dia bertindak melampaui batas terhadap mereka dan Kami telah anugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepada beliau,  'Janganlah kamu terlalu bangga, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri (sombong)' ” (Surah al-Qashash ayat 76)

Firman-Nya lagi yang bermaksud : "Dan (juga) Qarun, Firaun  dan Haman. Sesungguhnya telah datang kepada mereka Musa dengan segala mukjizat yang jelas sebagai bukti kenabiannya , namun mereka tetap takabbur di muka bumi dan mereka tidak terlepas daripada azab perit Allah Taala".
(Surah al-Ankabut ayat 39).

Jauhilah sifat sombong kerana sifat ini akan menjadikan seseorang termasuk di dalam golongan ketiga akan masuk neraka tanpa hisab.

Keempat : Pedagang atau ahli perniagaan yang berkhianat.

Salah satu cara untuk mendapatkan harta dengan cara yang halal adalah dengan perniagaan.
Perniagaan adalah suatu kegiatan ekonomi yang amat dianjurkan Islam kepada umatnya. Ini kerana aktiviti perniagaan menjanjikan hasil pulangan berlipat ganda kepada peniaga yang berusaha bersungguh-sungguh.

Rasulullah S.A.W. pernah bersabda yang bermaksud: “9/10 (90%)  rezeki itu adalah datang daripada perniagaan.” (Hadis Riwayat Tirmizi)

Peniaga yang berniaga melakukan penipuan dengan menaikkan harga barang atau menyorok barang keperluan harian tanpa memilirkan kesusahan orang lain adalah dikira berkhianat dan menipu orang ramai.

Rasulullah S.A.W. bersabda yang bermaksud: “Allah memberikan rahmat-Nya pada setiap orang yang bersikap baik ketika menjual, membeli dan membuat suatu kenyataan.” (Hadis riwayat Bukhari).

Tujuan perniagaan mengikut Islam sebenarnya ialah untuk memperbesarkan, memperpanjangkan dan memperluaskan aktiviti syariat dan dengan tujuan beribadah dan mendapat pahala yang banyak. Justeru di dalam perniagaan, hendaklah kita sentiasa mencari keredaan Tuhan dengan niat yang betul serta perlaksanaan yang betul.

Sekiranya seorang peniaga itu berkhianat atau menipu dalam perniagaannya, menipu timbangan atau mengurangkan spesifikasi yang telah ditetapkan sesuatu barangan/ pembinaan maka dia termasuk golongan keempat akan di masukkan kedalam neraka sebelum di hisab.

Kelima : Orang kampung yang kerana kebodohannya. ( Orang bodoh yang mempertahankan  kejahilannya)

Islam amat mengambil berat tentang keperluan menuntut ilmu, mengamalkan ilmu yang dipelajari dan menyampaikan pula ilmu tersebut untuk di maanfaatkan oleh orang lain.

Nabi S.A.W.  bersabda yang maksudnya, ”Barangsiapa menuntut ilmu bererti menuntut jalan ke syurga”. (Hadis Riwayat Muslim)

Sesungguhnya orang yang berilmu adalah tidak sama dengan orang jahil (bodoh). Orang jahil yang melakukan maksiat dan membuat dosa, tidak akan terlepas seksaan Allah S.W.T di atas kejahiliannya kerana kemalasannya untuk menuntut ilmu. Pepatah ada mengatakan 'bodoh sombong'.

 Orang jahil jika dia memberi pendapat ia hanya berkata menurut fikiran logik sahaja dan mengikut hawa nafsu, dan keadaan ini amat berbahaya jika silap memberi komen bab agama boleh sesat dan menyesatkan orang lain.
Golongan kelima yang jahil ini akan di masukkan kedalam neraka sebelum hisab kerana kejahilannya.

Golongan Keenam : Ahli ilmu kerana hasad dengkinya.

Hasad atau dengki diertikan sebagai sifat seseorang yang tidak suka orang lain lebih daripadanya atau tidak suka orang lain mendapatkan kenikmatan Allah. Ia ingin nikmat itu hilang daripada orang lain. Perasaan dan sifat ini adalah sifat yang dimiliki oleh Iblis laknatullah betapa dia cukup irihati kepada Nabi Adam a.s. dan anak cucunya.

Hasad dengki yang paling membahaya adalah apabila ulama menaruh hasad dengki kepada ulama yang lain. Apabila seseorang itu di gelar alim ulama maka dia adalah seorang yang berilmu dan mengetahui dosa dan pahala.

Dalam sejarah umat Islam yang terdahulu seorang ulama Islam yang besar Imam Abu Hanifah telah difitnahkan oleh beberapa ulama dizamannya. Mereka menaruh hasad dengki kepada beliau kerana ilmunya yang luas dan ramainya anak murid yang mengikuti pengajiannya. Fitnah yang mereka lemparkan keatas beliau hingga pemerentah masa itu telah memasukkan beliau masuk kedalam penjara. Tetapi dengan izin Allah, Allah S.W.T. membantu hamba-hamba-Nya yang dianianya dan Abu Hanifah dapat buktikan bahawa segala tuduhan dan tohmahan tersebut adalah fitnah semata-mata dan beliau dibebaskan.

Dari Abu Yazid Usamah bin Zaid bin Haritsah r.a yang berkata, "Aku mendengar Rasulullah S.A.W. bersabda yang bermaksud : 'Seseorang didatangkan pada hari Qiyamat, lalu dilempar ke Neraka. Maka keluarlah isi perutnya. Dengan isi perut yang keluar itu ia berputar-putar seperti himar yang mengitari porosnya. Para penghuni neraka berkumpul di dekatnya, seraya mengatakan, 'Wahai si Fulan! Apa yang terjadi padamu? Bukankah (dulu) kamu memerentah kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar?' Ia menjawab, 'Ya, memang dulu aku memerintahkannya kepada yang makruf , namun aku tidak melaksanakannya dan mencegah dari yang mungkar, namun aku melanggarnya'."
(Hadis Riwayat Muttafaq Alaih)

Biasanya ulama yang memiliki sifat hasad dengki adalah ulama dunia, ulama yang mementingkan diri sendiri dan tidak mahu menyatakan kebenaran kepada pemimpin zalim walaupun kezaliman itu terang-terangan berlaku dihadapan matanya. Ulama seperti ini akan masuk neraka tanpa hisab dan dia lebih dahulu masuk neraka daripada penyembah berhala .

Sahabat yang dimuliakan,
Marilah sama-sama kita menjauhkan diri daripada enam golongan yang masuk neraka tanpa hisab seperti huraian di atas. Orang yang paling berbahagia adalah golongan yang masuk syurga tanpa hisab seperti para Nabi dan Rasul dan para syuhada dan mereka yang benar-benar beriman, bertakwa dan bertawakkal kepada Allah S.W.T. bukannya golongan yang masuk neraka tanpa hisab.